• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 15 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

Wasis Zagara by Wasis Zagara
30 April 2021
in Resensi
0
Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

https://www.google.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Dalam salah satu bukunya, Ray Bradbury pernah menuliskan sebuah hikayat yang berbunyi seperti ini; “Hidup itu pendek, kesengsaraan itu pasti, ajal itu niscaya,” agaknya ungkapan itu tepat untuk menggambarkan keseluruhan isi cerita dalam novel besutan John Stainbeck ini. Novela berjudul Of Mice and Men yang kemudian dialih-bahasakan menjadi “Tikus dan Manusia” ini, menggambarkan kehidupan getir dan membosankan para pekerja peternakan.

Meskipun “Of Mice and Men” tergolong karya fiksi klasik—sebab pertama kali diterbitkan pada 1937, namun saya pikir buku ini masih sangat relevan untuk dibaca di era kekinian. Bahkan, mungkin sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Kepiawaian Stainbeck meramu cerita abadi inilah yang menjadikannya sebagai salah satu peraih hadiah nobel sastra pada tahun 1962.

Dari beberapa karyanya, terlihat betul bahwa Steinbeck gemar menyoroti perihal kesengsaraan hidup.  Kemuraman zaman, kegetiran, penderitaan dan semangat perjuangan, nampaknya menjadi tema-tema  sentral yang selalu ia minati. Kita semua tahu, bahwa persoalan-persoalan tersebut memang telah menjadi nadi kehidupan manusia. Hanya bentuknya saja yang berubah-ubah dari masa ke masa. Namun, esensi dan intinya tetaplah sama. Sehingga, saya rasa, itulah yang membuat novel-novel Stainbeck bisa jauh menjangkau zaman setelahnya.

Tidak jauh berbeda, novel “Tikus dan Manusia” ini pun menyiratkan ragam aroma kegetiran. Pasalnya, George dan Lennie yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini ialah cerminan manusia yang tidak punya keluarga dan masa depan. Tidak ada keriangan menanti jam pulang kerja dan bertemu kembali dengan anak, istri, dan ibu mertua. Mereka ialah pekerja serabutan yang terdampak depresi hebat America. Jalan hidupnya hanya pindah dari peternakan satu ke peternakan lain guna untuk menyambung hidup dan mengisi perut.

 George yang digambarkan bertubuh kecil dan berwajah muram hanya punya sosok Lennie—seorang bertubuh bongsor, yang meski tidak jahat ia selalu melakukan kekeliruan demi kekeliruan dan masalah-masalah baru dalam kehidupan George. Lennie menjadi karakter dengan intelegensi yang sangat rendah, lugu, namun terkadang cenderung buas dan sulit dikendalikan. Sedangkan, George kebalikannya, ia cerdik, penuh perhitungan dan memiliki visi hidup yang tidak terlalu buruk.

Ada banyak makna yang disampaikan dalam buku ini, melalui penggambaran para pekerja peternakan, serta latar kejadian di tengah depresi hebat di Amerika,  John Stainbeck seperti ingin menyiratkan bahwa ada berbagai hal dalam hidup ini yang absurd dan sia-sia belaka. Salah satunya ialah bekerja tanpa mempunyai cita-cita dan tujuan yang jelas. Stainbeck menggambarkan kesia-siaan ini menyelimuti pikiran para pekerja peternakan yang termarginalkan. Atau, sebut saja peternakan itu sebuah miniatur perusahaan pada zaman ini.

Begitu sia-sianya sehingga manusia hanya difungsikan sebagai alat pencetak uang. Dan, uang itu kemudian dihabiskan hanya untuk alat pemuas nafsu hewani pada diri manusia. Ya, dalam novel itu digambarkan fungsi yang sama antara pekerja ternak dan hewan ternak itu sendiri– diprogram untuk sebuah tujuan komoditas (uang). Hanya saja kasta manusia dianggap sedikit lebih unggul dibanding hewan ternak, meski fungsinya “sama saja”.

            Suara George menjadi lebih dalam, ia menulangi kata-katanya dengan berirama, seolah ia sudah begitu sering mengucapkan kata-kata ini. “orang seperti kita, yang bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak cocok di tempat mana pun. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras lalu pergi ke kota dan menghamburkan hasil kerja keras mereka, lalu setelahnya mereka banting tulang lagi di peternakan lain. Mereka tidak punya cita-cita”.

Dari dialog George dan Lennie yang tergambar di atas, maka terlihat jelas bahwa tidak ada yang lebih menyedihkan selain para pekerja yang tidak mempunyai harapan. Hidupnya diperbudak oleh “kandang.” Mungkin sekarang lebih dikenal dengan istilah “budak corporate”—semacam gaya hidup yang kurang manusiawi; bekerja, dapat uang, lalu menghabiskannya. Begitu seterusnya.

Istilah “budak corporat” serupa manusia yang kehilangan esensi kemanusiaannya. Lupa akan jati diri dan tak kuat memegang nilai, filosofi dan harapan hidup. Mungkin ini semacam novel yang sebenarnya ingin mengkritik perilaku kepegawaian yang monoton dan telah lupa kesejatian– bahwa pekerjaannya seharusnya tak melulu untuk uang dan uang. Karena jika demikian, maka manusia akan terlahir dan mati sebagai hewan ternak. Kritik John Steinbeck sangat halus disampaikan di novel ini.

Kendati demikian, di tengah kesia-siaannya, George sebenarnya mempunyai pemikiran yang lebih visioner dibandingkan pekerja peternak lainnya. Ia memberi harapan baru untuk dirinya dan Lennie, yakni membeli sepetak tanah, dan menjadi tuan atas dirinya sendiri.

            Suatu hari nanti, kita akan kumpulkan semua uang dan kita punya rumah kecil dan beberapa hektar tanah, sapi, dan babi. Dan, hidup dari tanah yang subur. Kita akan punya kebun sayur besar, kandang kelinci, dan ayam. Dan, saat hujan turun musim dingin, kita akan bilang persetan dengan kerja, dan kita akan buat api di perapian dan duduk di dekatnya dan mendengarkan hujan turun di atap—Gila!

            George merasa, ada hidup yang lebih manusiawi dari pada menjadi budak kandang dan kotoran yang menjijikan. Selain bermuatan kritik, novel dengan alur maju ini mempunyai daya tarik tersendiri, sebab tidak lupa mengangkat isu-isu yang tetap relevan sampai sekarang. Seperti rasisme, feminisme, dan kesehatan mental. Namun, lagi-lagi John Steinbeck mengemasnya secara halus dan rapi—disampaikan lewat dialog, alur cerita, penggambaran suasana dan karakter yang kuat. Kita bisa menilik beberapa idiom rasisme disampaikan melalui dialog seperti ini:

            Mungkin kali ini kalian sebaiknya pergi, rasanya aku tidak ingin kalian di sini. Orang kulit hitam harus punya hak, sekali pun dia tidak menyukainya.

Meski di tulis pada tahun yang kelewat lampau—1937, saya rasa novel ini masih cukup segar untuk dibaca. Isu yang diangkat dalam novel ini masih begitu relevan dengan isu kemanusiaan kekinian. Atau, mungkin ungkapan ini benar adanya; bahwa masalah baru sebenarnya tidak ada, semua masalah pernah terjadi di masa lalu. Namun, semua akan terulang kembali di masa depan, setiap yang terjadi hanya mengikuti siklus. Dan, itu pasti pernah terjadi di masa lalu.

Terlepas dari itu semua, novel setebal 143 halaman begitu layak menjadi teman duduk. Terutama bagi penggemar cerita dan penikmat tragedi. Dan, saya rasa 143 halaman tidak akan membuat mata perih, jika pun harus dibaca sekali duduk. begitu ringkas dan padat untuk menggambarkan suatu topik pada masa-masa depresi besar. Dan, tidak ada yang benar-benar sia-sia jika manusia tetap membudayakan membaca, kecuali jika manusia itu ingin hidup sebagai hewan ternak—yang hanya memikirkan makan dan memuaskan majikan.

Tags: depresi besarJohn Stainbeckkaum pekerjaOf Mice and MenpeternakanTikus dan Manusia
ShareTweetSendShare
Previous Post

Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Next Post

Hujan Menulis Air

Wasis Zagara

Wasis Zagara

Bertempat tinggal di Kab. Ponorogo, Saat ini menjadi Ketua komunitas literasi Forum penulis Muda (FPM) Ponorogo. Instagram : @Wasis_Zagara, email : wasis.zagara145@gmail.com

Artikel Terkait

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme
Resensi

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

13 October 2025

Ketidakadilan sosial di ruang sehari-hari kita mendorong banyak pemikir mencari pisau analisis baru dan segar. Di tengah diskursus tersebut, Mansour...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Belajar Menulis

Belajar Menulis

1 April 2021
Violinis Caitlin

Violinis Caitlin

26 July 2021
Siasat Bersama Wong Cilik dan Upaya Menginsafi Diri: Sebuah Perjamuan dengan Sindhunata

Siasat Bersama Wong Cilik dan Upaya Menginsafi Diri: Sebuah Perjamuan dengan Sindhunata

15 June 2025
Gambar Artikel Puisi Semua Semau

Semua Semau

7 January 2021
Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

Hikayat Seorang Lelaki yang Bersikejar dengan Matahari

16 February 2021
Gambar Artikel Ternak Ilmu(wan)

Ternak Ilmu(wan)

1 December 2020
Gambar Artikel Aliran Sungai Maya

Aliran Sungai Maya

10 December 2020
Perempuan yang Menghapus Namanya

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025
Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

17 March 2024
Gambar Artikel Syafaat Rasul Menurut Abu Mansur al-Maturidi

Syafaat Rasul Menurut Abu Mansur al-Maturidi

3 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.