• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 07 February 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Inspiratif Hikmah

Bahagia itu Sederhana

Intan Gandhini by Intan Gandhini
3 July 2021
in Hikmah
0

https://bicycleart.tumblr.com/post/107480952050

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sore ini awan hitam menutupi langit yang semula cerah. Mendadak gelap dan seakan kelam. Sesekali terdengar suara guntur meski tidak disertai kilat yang cahayanya mengalahkan lampu sorot di simpang lima. Angin juga tetiba bertiup semakin dingin, mengalahkan kesejukan saat bersama sang pujaan hati. Kali ini suasana memang di luar prediksi. Menakutkan sekali

Sambil duduk di kursi tengah, mataku sibuk memandangi lalu-lalang warga yang sedari tadi melintasi jalan. Ada yang naik motor terburu-buru mungkin teringat jemurannya belum diangkat, bahkan ada yang berlari kencang karena takut sebentar lagi hujan akan menyerang. Semua menjadi seperti anggota Basarnas, siap siaga, bahkan siaga satu.

Hatiku juga tengah menanti-nanti. Bapak belumlah pulang dari sawah, yang jaraknya tidak dekat dari rumah. Sementara Bapak hanya naik sepeda saat berangkat. Pikiranku melayang, bagaimana jika nanti kehujanan? Lebih-lebih di sawah tiada tempat untuk berteduh. Yang ada cuma gubug kecil dari bambu, itupun tidak terjamin keamanannya.

*****

Tiba-tiba aku teringat satu cerita beberapa tahun silam. Bapak sebenarnya bisa mengendarai sepeda motor. Sewaktu ia masih muda pernah diajari oleh kawan-kawannya. Namun karena suatu hal, Bapak pernah mengalami kecelakaan saat dibonceng naik motor oleh salah satu temannya. Saat itu luka Bapak cukup parah, tulang lengan atasnya retak, yang menyebabkannya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Mungkin karena kejadian itu, rasa trauma di hati Bapak masih saja membekas.

Hingga kini, Bapak masih takut saat dibonceng naik motor. Seringkali saat di perempatan jalan, Bapak selalu memberi aba-aba untuk menyalakan lampu sein dan membunyikan klakson—yang terkadang menurutku berlebihan. Sampai-sampai aku sering tertawa sendiri saat membonceng Bapak, karena menurutku klise, hehe.

Tapi ternyata semua itu membawa dampak yang positif. Saat aku sedang tidak bersama Bapak, setidaknya aku jadi selalu ingat untuk menyalakan lampu sein dan selalu membunyikan klakson saat di tikungan jalan. Aku bersyukur, ternyata semua yang sering dilakukan Bapak sangat bermanfaat untuk diriku.

Karena masih memiliki rasa trauma yang mendalam, kini Bapak lebih suka naik sepeda saja untuk kemana-mana. Mengayuh dengan kedua kaki yang kini semakin terlihat tulang betisnya. Sering juga aku melihat wajahnya penuh peluh saat mengayuh. Bapak tidak peduli betapa gencarnya matahari memanasi bumi, pun betapa derasnya hujan menghantam diri.

Satu hal yang masih saja menjadi cerita haru, bahwa Bapak tidak akan memintaku untuk memberikan kunci motor walau harus membeli sesuatu di tempat yang jauh. Bapak akan dengan bangga menaiki sepedanya yang juga sudah tua.

Tidak terbayang betapa lelahnya bapak. Dapat dipastikan kakinya kram. Belum lagi sepedanya tidak memiliki rem. Sehingga kalau mau berhenti, Bapak menggunakan kakinya untuk mengurangi kecepatan ban berputar.

Sedih sebetulnya, bahkan aku sering menangis saat melihat Bapak keluar rumah dengan sepeda ontelnya. Tidak lelah aku berinisiatif menawarkan kepada Bapak, supaya mau mengendarai sepeda motor. Namun Bapak tetap saja tidak mau. Katanya, “Naik sepeda saja biar tetap sehat.”

Terenyuh, sebenarnya bukan alasan itu yang membuatku merasa tertampar oleh kenyataan. Melainkan sikap sederhana dan apa adanya yang telah diajarkan oleh Bapak. Selalu dan selalu. Bapak juga tidak pernah malu meski saat ada acara seperti hajatan, bapak hanya berangkat dengan menggunakan sepeda. Sedangkan orang lain tinggal menjalankan starter saja pada motornya.

Salut. Bahkan menurutku tidak ada kalimat yang pantas diucapkan untuk sekadar mengungkapkan bahwa Bapak itu luar biasa. Sifat sederhananya mampu membuatku terus belajar, sehebat apapun kita, sebanyak apapun harta yang kita miliki, dan setinggi apapun jabatan kita, kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Karena harta dan jabatan tidak menjadi indikator manusia takwa menurut-Nya.

Boleh saja manusia memiliki segala pernak-pernik dunia. Akan tetapi, tetaplah berusaha mengimbangi agar menjadi manusia penuh takwa. Karena mau bagaimanapun juga, semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah semata. Segala hal yang berhasil kita dapatkan, tiada lain adalah bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Lantas, apa yang masih pantas kita sombongkan?

Berkat Bapak aku tersadar, menjadi diri sendiri ternyata jauh lebih menenangkan. Menjalani hidup dengan sederhana akan mengantarkan kita pada pribadi yang selalu menghargai dan bersyukur, apapun itu.

*****

Tak terasa air mata melintasi pipi. Sambil menatap Bapak yang baru saja tiba, kuusap air mata dengan lengan baju kiri. Bapak pulang dengan senyumnya yang merekah dan bersyukur tidak basah karena hujan. Alhamdulillah, ternyata bahagia itu sederhana.

Tags: bahagiabahagia itu sederhanabapaksederhana
ShareTweetSendShare
Previous Post

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

Next Post

Melankolia Perjalanan Musim

Intan Gandhini

Intan Gandhini

Tinggal di Ponorogo. Penulis buku "Catatan Hati di Tengah Pandemi" dan "Stop Wishing Start Doing By Learning". Anggota komunitas Kampus Literasi, Founder komunitas Pelangi Aksara. Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Sumatera Utara-Medan dan Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Darussalam Gontor. Bisa disapa via Instagram @intan_ganndhini

Artikel Terkait

Tadabbur via Momentum Hujan
Hikmah

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022

Sebuah pepatah mengatakan bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya. Namun, permasalahannya adalah tingkat kesadaran terhadap diri...

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya
Hikmah

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya

3 January 2022

Nashrudin Hoja adalah seorang tokoh sufi jenaka yang hampir sama tenarnya seperti Abu Nawas. Ia terkenal dengan kecerdasan, celetukan-celetukan dengan...

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan
Hikmah

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

15 July 2021

Bagi orang orang yang bekerja from nine to five, momen pulang kerja tentu sangat ditunggu. Yang sudah hidup bersama pasangan...

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana
Hikmah

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021

Setiap Jumat nenekku akan datang ke rumah. Setelah berbasa-basi tentang kesehatannya yang semakin memburuk, ia akan menyampaikan rangkuman hasil tontonannya...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Alam Pikiran

Alam Pikiran

9 June 2021
Bulan Memancar di Rambutmu

Bulan Memancar di Rambutmu

8 March 2021
Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021
Gambar Artikel Berkelana di Kota Kupang

Berkelana di Kota Kupang

19 December 2020
Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

26 September 2025
Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025
Gambar Artikel Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

26 November 2020
Gambar Artikel Ibnu Al-Haitham adalah Ilmuwan Muslim, Tokoh Penemu Lensa, Optik, Kamera

Kilas Balik Tokoh Penemu Lensa: Ibnu al-Haitham

26 May 2021
Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

Menyikapi Pemikiran Barat Seperti Jamaluddin al-Afghani

31 January 2022
Perubahan Budaya Organisasi di Masa Pandemi

Perubahan Budaya Organisasi di Masa Pandemi

26 December 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (68)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (55)
  • Metafor (220)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.