• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Sambatologi Komentarium

Kenapa Bahasa Inggris untuk Anak SD Tidak Boleh Dianggap Enteng

Maulida Arifatul Munawaroh by Maulida Arifatul Munawaroh
25 April 2021
in Komentarium
0
Gambar Artikel Kenapa Bahasa Inggris untuk Anak SD tidak boleh Dianggap enteng

Sumber gambar: https://www.etsy.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sebagai seorang tutor Bahasa Inggris (freelancer), saya biasa mengajar untuk beberapa siswa dari anak SD, SMP, hingga SMA/SMK. Saya juga ikut menjadi tutor di suatu bimbel (bimbingan belajar) dan meng-handle juga privat di rumah selama lebih dari dua tahun. Maka dengan latar belakang ini saya sangat terbiasa menghadapi siswa-siswi sekolah dengan kurikulum yang cukup berbeda.

Suatu hari saya dapat tawaran dari teman untuk mengajar privat keponakannya. Saat itu karena masih ada waktu lebih, maka saya terima tanpa pikir panjang. Singkat cerita hari Senin saya langsung ke rumahnya. Di sana kita mulai berbincang ringan bersama ibunya, dan cukup kaget ketika ibunya mengatakan ia ingin anaknya les karena sudah siswa kelas 5 Sekolah Dasar.

Anak tersebut bernama Felita yang ternyata hanya menerima mata pelajaran Bahasa Inggris tidak sampai dua semester. Sehingga kedua orang tuanya khawatir ia akan tertinggal, hingga akhirnya berinisiatif memanggil saya sebagai guru les untuk memberi bekal sebelum nantinya lanjut ke SMP.

Sebagai ‘mantan’ guru Bahasa Inggris di salah satu Madrasah Ibtidaiyah, saya pikir meskipun Bahasa Inggris bukan mata pelajaran inti pada jenjang Sekolah Dasar atau setingkatnya, namun mapel ini biasa dan lumrah dijadikan muatan lokal bersanding dengan mata pelajaran kesenian atau keterampilan lain. Sudah banyak sekolah yang melakukan itu, meskipun pihak sekolah bisa mengatur anggaran untuk honor guru tersebut menyesuaikan kemampuan dana yang ada. Saya yakin fresh graduate tidak banyak yang menuntut gaji banyak di awal pengabdiannya. (*Hmm sedikit curhat pengalaman pribadi, hehehe).

Mata pelajaran ini tidak bisa dianggap enteng. Ini bukan hanya soal kosakata yang dikuasai, tetapi perlu juga mengenal struktur bahasa, praktik mendengarkan, dan belajar berbicara melafalkan bahasa orang asing. Membacanya saja kadang bikin mules, bukan?

Bahasa Inggris memang sudah tidak langka kita temukan. Namun, bagaimana bisa kita memahaminya tanpa mengenalnya secara jelas?

Di jenjang berkutnya (SMP), guru Bahasa Inggris sudah untuk jarang menyentuh kosakata dasar (vocabulary) karena dianggap siswa telah memahaminya sewaktu SD. Tentunya bagi siswa yang tidak mendapatkan bekal yang cukup untuk menulis, otomatis akan kesulitan dan tidak menutup kemungkinan psikologisnya akan terganggu. Rasa minder tak bisa dipungkiri, apalagi kepada siswa-siswi yang berasal dari sekolah favorit. Bahasa kerennya: ‘insecure’. Saya saja yang sudah mengantongi cukup bekal dari SD kelas empat masih merasa ‘disconnected‘ dengan pelajaran lanjutan di SMP hingga SMK dahulu.

***

Kembali ke permasalahan awal. Ringkas cerita, saya sudah mengajar sekitar dua bulan, kebetulan dalam seminggu ada dua kali pertemuan. Saat ini ia sudah bisa menguasai sekitar lebih dari 400 kata dan mampu sedikit demi sedikit menyusun kalimat dengan benar. Bukankah ini hebat?

Sangat disayangkan jika kemampuan seorang siswi seperti dia dalam menguasai bahasa tidak dapat maksimal karena sistem sekolah atau kurikulum tidak begitu mendukung. Kebijakan Kepala Sekolah diperlukan dalam kasus-kasus seperti ini. Yahhh… Beruntunglah saya, mampu belajar bahasa asing ini meskipun sempat terseok-seok karena otak lebih lambat alias lola untuk menangkap materi dibanding yang lain. Namun, tak disangka ternyata masih bisa lanjut sampai sarjana hingga bisa bertemu banyak siswa dengan segala fakta unik yang ada–seperti apa yang saya ceritakan ini. Pada akhirnya kita tidak mampu mengubah banyak hal.

Tujuan tulisan ini selain untuk melatih skill menulis, juga menjadi refleksi diri, serta ditujukan untuk mengambil hikmah sekaligus coba saya bagikan. Memang sedikit-banyak saya kecewa dengan sekolah-sekolah yang masih saja menganggap enteng Bahasa Inggris untuk anak SD. Namun, di sini ada juga perasaan bahagia ketika melihat kepedulian orang tua terhadap kemampuan anaknya. Mereka tahu kebutuhan anaknya dan memberikan dukungan kuat. Selain itu, saya juga bisa lebih banyak melihat kebahagiaan yang terpancar dari Felita ketika ada kuis secara lisan, dia bisa melewatinya dengan sangat baik di setiap pertemuannya.

Cerita ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Ada berbagai sudut pandang yang bisa digunakan untuk melihat masalah ini. Yaps, setiap masalah yang selesai pasti akan diikuti dengan munculnya berbagai hikmah. So, never stop learning!

 

Kenapa Bahasa Inggris untuk Anak SD tidak boleh dianggap enteng ? Ditulis oleh Maulida Arifatul Munawwaroh dan Dipublikasikan di metafor.id .

Tags: bahasa inggriskomentariumkurikulumpelajaranpendidikansekolah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Senja Carita

Next Post

Pemikiran Muhammed Arkoun Tentang Dekonstruksi “Kritik Nalar Islam”

Maulida Arifatul Munawaroh

Maulida Arifatul Munawaroh

Mahasiswi Psikologi Pendidikan Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asal Klaten dan bisa disapa via akun Instagram @maulida_arifa.

Artikel Terkait

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti
Komentarium

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

26 September 2025

Ada sebuah kawasan yang tampak biasa di peta, namun warganya hidup dalam kepungan janji palsu yang manis. Mereka mendapat iming-iming...

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!
Komentarium

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022

Belum lama ini timeline media sosial saya sempat dilewati sebuah berita soal seorang ayah yang membanting laptop anaknya. Hal tersebut...

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya
Komentarium

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022

Dalam kategori musik di Youtube, ada banyak sekali lagu Jawa, entah itu genrenya dangdut, pop, atau koplo. Mungkin lagunya baru...

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan
Komentarium

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022

Fenomena ‘hijrah’ bukan hal yang asing lagi bagi kita. Saya sendiri kurang begitu paham kapan awal-mula munculnya fenomena hijrah ini....

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

31 December 2020
Jam Operasional Korona

Jam Operasional Korona

5 February 2021
Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

18 February 2024
Gambar Artikel Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

27 December 2020
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Pemikiran Muhammed Arkoun Tentang Dekonstruksi “Kritik Nalar Islam”

Pemikiran Muhammed Arkoun Tentang Dekonstruksi “Kritik Nalar Islam”

26 April 2021
Gambar Artikel Habis Sudah Setahun

Habis Sudah Setahun

31 December 2020
Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

29 July 2025
Gambar Artikel Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

19 November 2020
Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.