• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 09 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Sambatologi Komentarium

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

Merita Dian Erina by Merita Dian Erina
26 September 2025
in Komentarium
0
Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

Ilustrasi Brian Stauffer, "The Winner Takes All" 2018 | Sumber: The New York Times

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Ada sebuah kawasan yang tampak biasa di peta, namun warganya hidup dalam kepungan janji palsu yang manis. Mereka mendapat iming-iming pembangunan insinerator, alat pengolah sampah, yang diklaim bakal menggelar lapangan pekerjaan, mendongkrak ekonomi, dan menghadirkan masa depan yang lebih cerah. Kawasan itu adalah Curtis Bay, Baltimore, yang menjadi sumbu cerita dalam buku Future After Progress: Hope and Doubt in Late Industrial Baltimore karya seorang antropolog bernama Chloe Ahmann.

Kemudian, bagaimana realitasnya? Seperti yang sudah sering kita baca: warga saban hari menghirup asap, sakit-sakitan, dan tinggal di lingkungan yang semakin parah. Ahmann menyebutnya grammar of the subjunctive: hidup di bawah kata “akan”. Akan ada pekerjaan, akan ada kemajuan, akan ada masa depan lebih baik. Namun, kenyataannya, tak satupun terwujud. Ia menulis, “to be forgotten in anticipation is to be asked to live for futures that never arrive.” Artinya, warga diminta sabar menunggu masa depan yang tak kunjung datang.

Dari Curtis Bay ke Senayan

Kalau kita tarik keadaan ini dengan negara Indonesia, situasinya tak jauh berbeda. Pemerintah rajin menjanjikan “Indonesia Emas 2045”: negara maju, rakyat sejahtera, jalan mulus ke surga dunia. Namun, kenyataannya? Emas yang dijanjikan lebih mirip logam campuran—kusam, mudah karatan pula. Duh!

Contoh paling bikin geleng-geleng kepala: anggaran DPR. Bayangkan, rumah dinas anggota DPR bisa sampai Rp50 juta per bulan. Serius, itu rumah atau resort bintang lima di Bali? Sementara banyak rakyat di kota besar ngekost di kamar 3×3 meter seharga sejuta per bulan, tiap malam harus gemetaran karena bunyi listrik bip… bip… atju… bip… yang bebas bunyinya, bikin jantung dag-dig-dug sambil mikir tagihan listrik dan air.

Belum lagi jatah beras anggota DPR, yang mencapai 12 juta per bulan. Lah, itu makan beras apa sampai 12 juta? Dimakan sambil ngopi pakai air zam-zam tiap pagi? Satu keluarga biasa makan sekitar 20 kg beras sebulan, sementara anggaran beras DPR bisa membeli ratusan ton—kayak satu gudang Bulog. Bisa kita bayangkan, kalau satu gudang itu dibagi ke rakyat. Eh, ternyata cuma dinikmati satu elite politik saja.

19 Juta Lapangan Kerja atau 19 Juta Janji?

Selain itu, pemerintah berbakat dan terlalu rajin mengumbar janji akan membuka 19 juta lapangan kerja baru. Angka yang besar, sampai bikin rakyat berpikir, “Wah, mungkin besok kucing kampung saya juga bisa dapet kerja.”

Tapi, berita dari lembaga internasional tidak seceria itu. IMF memprediksi Indonesia bakal jadi negara dengan angka pengangguran tertinggi kedua di Asia, setelah China. Jadi, bagaimana ceritanya? Yang dijanjikan 19 juta pekerjaan, tapi kenyataannya malah antrian penganggur makin panjang.

Situasi tersebut mirip betul dengan apa yang temen saya bilang, “Besok gue traktir, bro.” Eh, besok ketemu, dia malah bilang, “Aduh, dompet ketinggalan.” Mirisnya, dompet ketinggalan terus tiap minggu. Kapan traktirnya, Bos?!

Subjunctive Time ala Indonesia

Demikianlah inti masalahnya: kita diminta percaya bahwa nanti semuanya “akan” lebih baik—pendidikan gratis, kesehatan mudah diakses, Indonesia maju. Semua pakai “nanti” dan “akan”. Namun, bagaimana realitas hari ini? Anggaran elite politik habis untuk kebutuhan pribadi dan fasilitas mewah.

Ahmann bilang, “Anticipation promises change while deferring it indefinitely.” Artinya, antisipasi menjanjikan perubahan, tapi sekaligus menundanya tanpa batas. Pas sekali dengan kondisi kita. Terlalu persis. Kita hidup di tengah janji manis, dan kenyataan tiap hari berkata membisik: “Sabar ya, nggak sekarang kok.”

Kalau terus begini, jangan-jangan yang benar-benar “emas” cuma beras DPR. Rakyat? Paling kebagian debu, polusi, dan janji palsu.

Kenapa Kita Masih (Dipaksa) Percaya?

Hati-Hati! Selain masalah ekonomi, janji-janji ini juga punya fungsi politik. Dengan menjanjikan masa depan cerah, pemerintah bisa menunda kritik dan menenangkan rakyat. Mirip psikologi balsem. Kita diolesi agar tenang sejenak, tapi sakit pedalaman kita tak benar-benar sembuh. Kita disuruh sabar, berharap, dan percaya, padahal setiap tahun angka kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan tetap ada, bahkan melonjak.

Barangkali inilah yang membuat makin miris: janji “Indonesia Emas” sering tidak dibarengi dengan langkah nyata untuk kesejahteraan rakyat biasa. Infrastruktur dibangun, tapi siapa yang menikmatinya? Jalan tol lancar, tapi rakyat miskin tetap sulit naik transportasi umum–yang semakin mahal itu.

Di tengah semua janji itu, wajar kalau rakyat mulai skeptis. Kita belajar satu hal dari Curtis Bay: masa depan yang dijanjikan justru bisa jadi alasan buat menutupi penderitaan–terkhusus kita dan saya sebagai rakyat jelata hari ini.

Jadi, sebelum terpikat dengan “Indonesia cerah” atau “Indonesia Emas 2045”, mari lihat kenyataan: rumah dinas mewah, jatah beras fantastis, dan janji lapangan kerja yang tidak jelas waktunya. Kalau terus begini, rakyat cuma kebagian asap tambang, debu jalanan, janji-janji, dan “nanti-nanti” tanpa henti.

Kalau ada yang benar-benar emas sekarang, itu cuma beras DPR. Sisanya? Masih kering, berdebu, dan menunggu janji yang ternyata palsu. Argh, menyakitkan!

Tags: antropologiChloe AhmannesaiFuture After ProgressIndonesiakesenjangankomentariumsambatologi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dua Jam Sebelum Bekerja

Next Post

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Merita Dian Erina

Merita Dian Erina

Perempuan asli Jawa, tepatnya di Purbalingga. Kini sedang menempuh studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tegur sapa bisa di Instagram @meritadianerina .

Artikel Terkait

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!
Komentarium

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022

Belum lama ini timeline media sosial saya sempat dilewati sebuah berita soal seorang ayah yang membanting laptop anaknya. Hal tersebut...

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya
Komentarium

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022

Dalam kategori musik di Youtube, ada banyak sekali lagu Jawa, entah itu genrenya dangdut, pop, atau koplo. Mungkin lagunya baru...

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan
Komentarium

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022

Fenomena ‘hijrah’ bukan hal yang asing lagi bagi kita. Saya sendiri kurang begitu paham kapan awal-mula munculnya fenomena hijrah ini....

Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR
Komentarium

Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

9 January 2022

Istilah LDR tentu sudah tak asing lagi di telinga. Ada banyak alasan mengapa orang menjalani LDR, seperti pekerjaan atau pendidikan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

31 March 2024
Sedih yang Diam

Sedih yang Diam

1 April 2022
Jumat Berkah dan Kelahiran

Jumat Berkah dan Kelahiran

18 March 2022
Gambar Artikel Puisi Tentang Kopi - Setabah Kopi

Setabah Kopi

24 December 2020
Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022
Gambar Artikel Cintaku Urusan Orang Lain

Cintaku Urusan Orang Lain

2 November 2020
Aku Pernah Melihatmu Tertidur

Aku Pernah Melihatmu Tertidur

17 May 2021
Kopi yang Tumpah Sebelum Diangkat

Kopi yang Tumpah Sebelum Diangkat

3 March 2021
Kiriman Nasib dari Seseorang

Kiriman Nasib dari Seseorang

28 January 2021
Gambar Artikel Pahlawan Bukan Hanya Tentang Sejarah, tapi Juga Pemuda

Pahlawan Bukan Hanya tentang Sejarah, Tapi Juga Pemuda

23 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.