Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar di Indonesia. Persoalan yang berbeda-beda tersebut timbul dalam setiap pergantian bab. Saya menemukan ini setelah mencermati dan mengambil jarak dengan bacaan. Awalnya novel ini saya nikmati dengan lambat sesuai alur yang ditulis oleh Ramayda. Begitu tuntas menyelesaikannya dan membiarkan ia mengendap satu pekan di kepala, saya kembali membuka daftar isi hingga bab-bab yang membuat saya bisa melihatnya dari atas, dari view helikopter.
Setidaknya ada lima hal yang diceritakan dalam lima bab. Di antara semuanya, saya tertarik untuk membahas soal Nini Randa, penggerak utama cerita dalam novel—meski judul novel ini adalah Tango dan Sadimin.
Kasih yang Semu dan Memuakkan dalam Child Grooming
Nini Randa yang ditemukan di sungai dan kemudian dirawat oleh orang yang juga bernama Nini Randa—nama yang lantas diturunkan padanya—tumbuh dan besar dengan sendirinya. Usai orang yang merawatnya meninggal dunia, ia lantas hidup dengan begitu saja di gubuk reot dekat sungai. Proyek di dekat sungai yang mengharuskan kuli-kuli berkumpul di sana membuat Nini Randa pertama kali belajar tentang laki-laki.
Untuk pertama kalinya Nini yang berusia belia merasakan kehangatan yang senyap dari tubuh yang berbeda dari tubuhnya. Ia bernama Satun Sadat. Laki-laki pertama yang mengambil keperawanannya yang polos, merenggut pengalaman kewanitaan yang bahkan belum Nini pahami penuh bagaimana bentuknya. Satun Sadat juga mengambil berkat penglihatan Nini terhadap yang gaib yang terkesan digambarkan Ramayda sebagai “dosa” meski itu adalah sebuah pemerkosaan.
Laki-laki kedua yang hinggap di dunia belia Nini adalah mandor proyek. Mandor itu lebih dari sekedar mengambil bagian pada setiap jengkal tubuh Nini, ia turut pula memberikan kehangatan layaknya ayah kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau suami kepada istrinya. Secara praktik, meski seperti prostitusi yang dibayar begitu selesai, mandor memiliki kata-kata yang halus yang diharapkan perempuan. Ketika Nini yang sejauh pemahaman dan pengalamannya selalu memberikan tubuh dan uangnya kepada laki-laki—lantas belajar hal baru dari mandor “aku yang seharusnya memberimu itu!”—sebuah kalimat yang sangat maskulin dan diinginkan oleh perempuan belia sebatang kara.
Terlepas dari Nini Randa yang seorang diri hidup dan bertahan di dunia, ada alasan mengapa anak di bawah umur itu dilindungi, hal itu karena pengetahuan dan keputusan-keputusan yang mereka buat belumlah memiliki kesadaran penuh. Usia di bawah dua puluh masih rentan salah, rentan dimanipulasi, dan terkadang cepat mengambil kesimpulan yang dangkal. Anak yang dibesarkan di keluarga hangat dan mengalami sekolah formal saja berada dalam status rentan, maka apa yang terjadi pada Nini Randa menjadi semacam keniscayaan. Nini yang lugu dan tanpa perlindungan orang dewasa terjerat dari satu tangan laki-laki ke tangan lainnya.
Kasih sayang yang diberikan orang dewasa kepada anak-anak belia itu semu. Cerita dan pelajaran mengenai laki-laki dalam hidup Nini setidaknya membuktikan anggapan kalau laki-laki hanya datang ketika ada maunya (tubuh dan seks). Mereka akan meninggalkan perempuannya ketika merasa sudah. Tidak ada rasa bersalah atau tanggung jawab, hanya ada transaksi yang dimanipulasi.
Seks, di sisi lain, turut menjadi daya tawar Nini Randa terhadap dunia yang tidak memihaknya. Ia telah belajar bahwa dengan tubuhnya ia mampu melebarkan gubuk menjadi sebuah rumah, mampu membeli sawah hingga harga diri, pengalaman dan kesendiriannya mengajarkan hal-hal yang tidak didapatkan dalam sebuah rumah yang hangat.
Ibu Bernama Setan
Meski judul novel ini Tango dan Sadimin, menurut saya cerita mengenai Nini Randa saja sudah cukup menarik. Nini Randa yang bermula dari bayi yang ditemukan di sungai, lalu menjadi ibu karena pemerkosaan yang tidak dipahaminya, hingga akhirnya menjadi pemilik rumah bordil yang menawarkan jasa prostitusi bagi siapa saja yang rela membayar. Atas dasar kebaikan hatinya, Nini menyekolahkan anak pertamanya yang bernama Cainah. Ketika sudah mulai terlihat Cainah menyukai laki-laki, Nini memberikan pelajaran berharga soal laki-laki.
Cita-cita dan bayangan masa depan paling indah yang ditawarkan Nini pada Cainah adalah membangunkan satu gubuk untuknya, sehingga setamat sekolah nanti, Cainah bisa melakukan hal yang sudah bertahun dilakukan oleh ibunya tersebut. Ada harga diri di sana, ada warisan kestabilan yang ditawarkan Nini melalui jasa seks. Namun yang dilakukan Cainah berbeda, ia memilih lari dengan kawan kelasnya lalu menikah. Sejak saat itu Nini menutup pintu bantuan kepada Nah dan keluarga barunya itu.
Novel ini seolah menginginkan makna bahwa pernikahan adalah kesialan bagi perempuan. Bila hidup menghendaki keharusan berjuang sendiri seperti Nini Randa, maka jalanilah begitu. Menikah seolah nampak sebagai keputusan yang bodoh, terutama bagi Cainah yang memiliki Ibu bernama Nini Randa, meski ia juga sekaligus menjadi sang ibu bernama setan.
Barangkali alasan Ramayda membuat bab khusus soal “Ibu Bernama Setan” ini merupakan suatu realitas yang dekat dan terjadi di banyak tempat. Mungkin itu karena dirasa Nini tidaklah menjelma sebagai ibu yang melindungi. Ia adalah ibu yang melahirkan anak-anaknya, dan sejauh itu saja tanggung jawab tubuhnya terhadap tubuh-tubuh lain yang lahir darinya. Apalagi jika itu bukan murni atas kehendaknya untuk memiliki bayi, yang mana ternyata bayi itu bisa tumbuh menjadi manusia seutuhnya.[]














