• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 25 February 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Ruang Tunggu: Puisi-puisi Habib Muzaki

Habib Muzaki by Habib Muzaki
26 December 2022
in Puisi
0
Ruang Tunggu: Puisi-puisi Habib Muzaki

Ilustrasi gambar karya Steven Kin: https://www.boredpanda.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Dehoffnung

Aku…

Sungguh-sungguh menipu hujan
Menamainya sebagai hutan
Setiap tetesan menitipkan mimpi
Akar-akar menumbuhkan sepi

Angkuh waktu membalik mundur
Menghidupi pohon-pohon yang gugur
yang ditebang dan tumbang
Terbilang di seribu zaman

Maka biarkanlah pergi menjadi perjalanan panjang. Dan, kembali sebagai pulang yang tak dirindukan. Karena tak akan pernah sama langkah kaki yang berdampingan dengan jalanan sunyi.

Dan, aku tak pernah sendiri. Jumlahku seribu, bersama mimpi-mimpi dan catatan Ohara, yang berusaha dibumihanguskan para bedebah-sampah yang memberhalakan kesadaran palsu.

Surabaya, 15 November 2022

 

Ruang Tunggu

Menunggu adalah tentang,
bekerjasama dengan waktu. Menawan sepi
yang menjamur dari balik jeruji besi. Burung kenari
yang memilih kembali kepada sangkar tak terkunci. Kuning padi
menyusuri perut-perut lapar korban tragedi. Atau telinga yang tuli
meski dipanggil berkali-kali untuk kembali
Menunggu adalah tentang bagaimana aku dan dirimu,
dalam kita; terbata-bata mengeja makna
dari mengapa wakil tuhan bisu pada lahan-lahan,
yang dirampok penguasa

Sedangkan ditunggu adalah persoalan dikejar sebuah jarak
Memangkas jalanan, menembus hujan, menyusuri kenangan
Bisa jadi dalam setiap nanti ada waktu yang menunggu dihampiri
Karena sendiri menunggu tak selalu mudah dikenali
Terkadang jarak adalah batasan menolak serempak
Seperti dedaunan nakal yang mengintip langkah kaki kita
menua bersama hamparan rindang yang ditebang
atau pada rejeki pedagang kaki lima
yang dikorupsi berandal binal

Menunggu dan ditunggu. Kita manusia-manusia,
yang terlalu banyak melewatkan suara-suara kelaparan di seberang kota
Seribu rintihan di kepala yang tak terbayang rupanya. Karena anak-anak kehilangan
lahan bermain yang kini menjadi gedung-gedung mewah pencakar mimpi
Bukankah kita sudah terlalu liar bermain-main dengan apa yang tak bisa kembali,
seperti sedia kala lagi? Menunggu dan ditunggu. Sebenarnya kita menunggu apa
dan mereka sedang ditunggu siapa? Pada himpunan garis batas penderitaan,
yang hanya kita lihat sebagai angka

Surabaya, 30 November 2022 

 

Seumpama Coklat-Susu

Coklat susu; warna yang,
menyanyikan abu-abu pada sebuah ranting kayu
Ranting yang dirawat pada pohon tua di sebuah pojokan kota
Ia seumpama puisi yang dibaca siang dan malam. Dengan lantang dan senyuman dibesarkan bersama waktu
Dihidupi mimpi dan perjalanan panjang. Untuk kemudian menelan kepahitan serta darah juang
Sebagai saksi bisu dari langkah kaki yang kesana-kemari menapaki lautan

Atau menjadi bukti dari,
diksi sastrawi yang selalu mencari arti
Ia, ranting kayu yang akan menolak layu
karena ia akan menjadi yang baru, dan memulai sendiri petualangan,
di atas kapal besar yang senantiasa berputar-putar
mengelilingi lautan makna dan pulau kata-kata
Tumbuh, hidup, menghidupi,
menghidupi janji-janji yang diwarisi
Mewarisi semangat kedua warna,
memberi makna, menjadi bermakna,
tapi ini masih seumpama

Surabaya, 2 Desember 2022

 

Bagaimana Harinya, Kasih?

Kalau kelak,
datang sebuah pagi tanpa narasi
sedang hati berhenti memproduksi puisi
sementara kenangan rapi tersimpan di garasi
Jangan kau sebut sebagai benci. Atau diksi-diksi
itu telah basi. Jangan kau sebut sebagai pasrah,
meski menyerah kadang terlihat indah

Kelak nanti
Aku memang akan berhenti
Lari menuju jalan pergi. Menyusuri sunyi,
yang dirawat duri-duri tak berbunyi
Sendiri mati tanpa mentari
Membusuk dalam khusyuk. Terlelap bersama gelap
menggali sendiri liang lahat sebagai sekat

Bertahan sejauh ini, dalam tahun-tahun
sebagai catatan yang harus gugur sebagai daun-daun,
yang layu dan kering. Sebagai waktu yang tak lagi sering
Merawat memori senyum yang lebat
Sebagian buahnya adalah hangat
Separuhnya lagi “namun singkat”

Aku tak mau senyum itu cepat berlalu
Maka aku tulis sebuah surat tentang rindu, yang isinya
adalah judul puisi ini

Surabaya, 22 Desember 2022

Tags: habib muzakimetaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Anthony Giddens: Agensi dan Strukturasi Sosial

Next Post

Ode untuk Martir Pengetahuan: Puisi-puisi Moch Aldy MA

Habib Muzaki

Habib Muzaki

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi. Bisa disapa di ig @mordova.my

Artikel Terkait

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Balapan yang Dibudayakan

Balapan yang Dibudayakan

20 October 2021
Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

10 April 2022
Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Gambar Artikel Anomali Rokok dan Sepak Bola

Anomali Rokok dan Sepak Bola

8 January 2021
Gambar Artikel Sunyi dalam Kerinduan

Sunyi dalam Kerinduan

29 December 2020
Gambar Artikel Menemui Aku yang Aku

Menemui Aku yang Aku

5 November 2020
Perjalanan Wahyu Nirwaktu

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

11 January 2022
Gejala Kebudayaan Hilang di Era Pandemi

Gejala Kebudayaan Hilang di Era Pandemi

7 February 2021
Gambar Artikel Kemarin dan Rindu

Kemarin dan Rindu

31 October 2020
Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman

31 October 2025
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (222)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (21)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.