Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini. Mungkin kapalnya agak kecil, sehingga wajah-wajah turis yang kebanyakan dari Asia nampak.
Pengeras suara bertalu, memberitahu, Welcome to Zürich, atas nama kapten kapal menyapa penumpang, akan dibawa keliling beberapa dermaga dan pukul 19.25 sudah tiba di Zürich lagi. Wah, ini program kapal yang bagus, bagi pelancong yang minim waktu.
Zürich bukan ibu kota Swiss, tapi sering orang salah sangka. Ini karena memang laju ekonomi di Zürich tinggi. Bahnhofstrasse merupakan Wallstreet di New York, yang mana di jalan itu semua barang paling mahal di dunia dijual.
Kapal bergerak dan lekas terlihat, perahu-perahu layar bersilang rute memanfaatkan tenaga angin liar. Kegiatan dengan air di danau Zürich tampak semarak. Dari perahu-perahu pedal, maupun selancar dengan kekuatan angin memakai semacam payung memanjang. Ditambah air mancur di sebelah kanan.
Kapal berhenti di dermaga Zürichhorn. 10 penumpang turun dan satu orang saja masuk. Ini memasuki musim panas, sepertinya semua warga Zürich ingin menenggelamkan tubuhnya ke air, agar segar. Kapal merapat di Küsnacht lagi. Banyak orang turun, ada yang memakai jas hitam, memegang tas kantor. Dugaanku mereka ini bekerja di Zürich dan sekarang waktunya pulang. 4 orang baru naik kapal.

Dari Küsnacht, kapal berlenggang ke Erlenbach lagi, yang tadi kami gumuli. Kulihat warga yang rebahan dengan anjingnya masih di situ. Sebelahnya masih terdapat orang-orang berada di air. Baru kusadari ada pohon besar di tepi pelabuhan Erlenbach berdiri pohon besar yang daunnya merah tua. Kapal memotong jalur panjang menuju dermaga Thalwil. Beberapa orang turun, sebaliknya tak ada yang naik.
Arsitek atap rumah-rumah bundar. Dominan jendela kaca dan kayu. Ini jarak dermaga paling jauh, maka sekarang saatnya kapal kembali ke Zürich lagi. Rüschlikon, dermaga berikutnya. Disambut bendera tiga warna; biru, merah dan putih. Sebuah patung perempuan gemuk telanjang terbuat dari metal.
Sepanjang tepi danau ini yang kucatat, banyak taman dengan bunga otensia aneka warna. Bunga mawar merah mekar merambat pada tiang-tiang besi melengkung dengan formasi huruf U di taman. Rumah-rumah model Rigelhaus, separuh beton dan separuh kayu. Terutama susunan kayunya seperti rusuk tubuh manusia. Orang-orang sepanjang tepi danau sepertinya mereka enggan pulang. Ini sudah pukul 18.56, mereka masih berkelakar, berjemur, berenang, mandi, mendayung kano. Matahari masih menggantung kuat di langit.
Pengeras suara mewartakan, agar penumpang menoleh ke samping kanan. Ada Gedung bertuliskan Lindt & Sprüngli, Chocholate Factory. Muka para pelancong berbinar, menatap tulisan Chocholate Factory. Memang merek cokelat itu terkenal. Dan permen cokelat dari Swiss itu menjadi favorit kebanyakan pelancong asing ke Swiss.
Sesungguhnya, walau Swiss masyhur dengan produksi cokelatnya, warga Swiss sendiri banyak yang belum pernah melihat buah kakao. Itu aku alami, ketika aku sebagai guide di Bali, sering berhenti di pohon kakao dan buah yang putih itu kutunjukkan kepada turis Swiss. Mereka rata-rata baru tahu, pohon kakao dan buahnya keras menggantung.
Dermaga Kilchberg berbendera 3, 2 biru dan 1 merah kami hampiri. Kulihat banyak turis India atau Pakistan sudah antre berdiri, orang paling depan mungkin tour leader, ia memegang bendera kecil warna merah. Turis-turis itu naik kapal dan kutatap di sekitar dan orang-orang masih berenang di pemandian samping dermaga. Membaca geliat kota ini, secara ajaib benak saya teringat sosok Thomas Mann, seorang peraih nobel sastra yang pernah menjadi eksil di negeri Swiss, di tepi danau Zürich.
Thomas Mann di Kilchberg
Thomas Mann lahir di Lübeck, Jerman pada 6 Juni 1875. Dia anak kedua dari lima bersaudara pasangan ayah pengusaha serta senator bernama Thomas Johann Heinrich Mann dan ibu berdarah Brasil bernama Julia da Silva Bruhns.
Ketika Thomas Mann berusia 16 tahun ayahnya meninggal. Peristiwa inilah yang menandai hancurnya usaha ayahnya, dan sekaligus mengilhami karyanya yang paling legendaris berjudul Buddenbrooks terbit tahun 1901. Novel inilah yang akhirnya mengantar Thomas Mann mendapat hadiah nobel pada tahun 1929.
Ketika manuskrip novel ini dikirim Thomas Mann dari Italia ke penerbit Samuel Fischer di Berlin, penerbitnya enggan menerbitkan. Thomas Mann disarankan oleh penerbitnya agar meringkas hingga setengahnya. Kata penerbit, siapa orang yang akan membaca novel setebal itu?
Tapi Thomas Mann menolak. Pada akhirnya novel itu diterbitkan juga.
Dalam waktu yang singkat novel bertema hancurnya sebuah keluarga pengusaha tersebut dianggap sebagai novel berbobot di kalangan pemerhati sastra berbahasa Jerman. Pada tahun 1905 Thomas Mann kawin dengan Katia Pringsheim dari keluarga intelek Yahudi. Pasangan ini dikaruniai enam anak; Erika Mann, Klaus Mann, Monika Mann, Golo Mann, Elisabeth Mann, dan Michael Mann.
Di tengah kesibukan mengurus keluarga dengan enam anak, Thomas Mann masih tetap tekun berkarya. Novel Thomas Mann berikutnya berjudul Kematian di Venesia (Der Tod In Venedig) terbit pada tahun 1912. Selang 12 tahun lagi, tepatnya pada tahun 1924 novelnya paling tebal dengan 1004 halaman terbit berjudul Gunung Ajaib (Der Zauberberg).
Berawal dari kemenangan partai Nazi (Nationalsozialisten) pada 31 Juli 1932, sejak itu di Jerman dikuasai oleh rezim ekstrem kanan di bawah Hitler. Melihat kekacauan politik dalam negeri, Thomas Mann aktif memberikan ceramah politik di berbagai kota menentang kebijakan rezim. Pada beberapa ceramahnya dia banyak ditentang oleh pengikut Nazi. Bahkan Thomas Mann pernah dapat kiriman paket berisi novelnya Buddenbrooks yang sudah menjadi abu.

Dalam keadaan politik yang mencekam, akhirnya pada 11 Februari 1933 Thomas Mann bersama keluarganya bereksil ke Switzerland. Sebagian besar harta bendanya di Jerman ditinggalkan. Padahal ketika Thomas Mann menerima hadiah nobel di Swedia sebesar lebih dari setengah juta Euro dengan perhitungan kurs sekarang.
Dia sudah diingatkan oleh seorang wartawan Yahudi, agar uang tersebut disimpan saja di luar negeri. Saran wartawan itu sangat beralasan. Namun, Thomas Mann tak menggubris saran itu. Pada tahun 1938 Thomas Mann bersama keluarganya meninggalkan Switzerland bereksil lagi ke Amerika. New York Times edisi 21 Februari 1938 menurunkan berita tentang kehadiran sastrawan terkemuka Jerman itu.
Ucapan Thomas Mann di koran tersebut:
It is hard to bear. But what makes it easier is the realization of the poisoned atmosphere in Germany. That makes it easier because it`s actually no loss. Where I am, there is Germany. I carry my German culture in me. I have contact with the world and I do not consider myself fallen.
Tahun 1949 pada acara ulang tahun kelahiran Goethe yang ke 200 (1749-1949), Thomas Mann diundang ke Jerman. Pertama kalinya dia sejak 16 tahun kembali ke tanah airnya. Thomas Mann mengunjungi Frankfurt dan rumah Goethe di Weimar.
Sekitar 1,5 juta warga Jerman mendatangi orasi politik Thomas Mann. Pada tahun 1952 Thomas Mann sekeluarga memutuskan kembali ke Switzerland dan tinggal di Kilchberg pinggir danau Zürich. Keluarga Mann hidup dalam ketenaran. Katia Mann, sebagai ibu yang sabar dan bertindak sebagai manager yang mengurus karya-karya suaminya.
Pada masa tuanya tahun 1970 Katia Mann juga menulis buku berjudul Kenang-Kenanganku yang Tak Tertulis (Meine ungeschriebenen Memoiren). Pada buku tersebut Katia Mann mengatakan, harusnya di keluarga ini ada orang yang tidak menulis. Cukup lama Katia Mann berdiam diri, karena semua penghuni rumah menulis.
Bakat mengarang Thomas Mann menurun pada keenam anak-anaknya. Erika, anak pertamanya selain sebagai pengarang juga sering bermain teater dan aktif sebagai wartawan. Klaus Mann sudah menerbitkan karyanya berjudul Mephisto serta disusul karya-karya yang lain. Golo Mann, di samping sebagai sastrawan juga sebagai sejarawan. Monika Mann sebagai sastrawan.
Elisabeth Mann, sebagai sastrawan juga ahli kelautan. John Irving, novelis Amerika masa kini dalam bukunya Perjalanan di Jerman (Deutschlandreise) bercerita pada kawannya Günter Grass, bila dia pada perjalanan pesawat dari Toronto ke Paris tak sengaja duduk di sebelahnya anak perempuan Thomas Mann yang bernama Elisabeth Borgese Mann.
Irving malu, karena sempat memperkenalkan diri sebagai novelis, ternyata orang di sebelahnya itu anak sastrawan besar Jerman. Terakhir adalah Michael Mann sebagai pemusik dan ilmuwan sastra di universitas Berkeley. Sementara itu, cucu kesayangan Thomas Mann bernama Frido Mann. Pasangan Michael Mann dan Gret Moser, juga seorang sastrawan dan psikolog di Kalifornia. Sulit dicari bandingannya pada sejarah sastra dunia, seluruh keluarga mempunyai kecintaan dan berkutat penuh dengan dunia sastra.
Sebagai sastrawan, dia cukup produktif. Dia meyakini, sebagai seorang yang jenius selalu terkait dengan empat hal pokok; bakat, rajin, disiplin, dan karakter. Adapun karya-karyanya yang lain; Tonio Kröger, Tristan, Mario dan Tukang Sihir (Mario und der Zauberer), Joseph dan Saudara-Saudaranya, (Joseph und seine Brüder), serta esai-esai tentang sastra dan politik.
Hanya saja, kemegahan karier dan kebesaran nama Thomas Mann harus ditebus dengan badai keluarga. Klaus Mann ditemukan meninggal di Cannes, Perancis pada tahun 1949 karena overdosis menelan obat tidur. Pada buku hariannya disebutkan: Aku tidak akan meneruskan menulis buku harian ini. Aku tidak ingin hidup lagi tahun ini. Disusul Erika meninggal tahun 1969 karena tumor otak.
Pada 12 Agustus 1955, Thomas Mann meninggal dunia di Zürich, Switzerland. Tertera dalam pesannya dia tidak mau dimakamkan di Jerman. Jerman dia anggap buas dan asing.
Kini, saat aku tulis cerita ini (24 Juni 2025), Thomas Mann genap 150 tahun (1875 – 2025). Berbagai acara sastra di Jerman, Swiss dan Austria digelar dan ditayangkan di media untuk memperingati ulang tahunnya. Marcel Reich-Ranicki, kritikus sastra Jerman berpendapat: “Thomas Mann telah mendefinisikan Jerman dengan perspektif yang baru.” Sebab itu aku menganggapnya sejak tahun 1832 sampai abad ke 20 tidak ada sastrawan Jerman lain sebesar Thomas Mann.
Kapal kembali ke tengah danau dan aneka kegiatan air dengan mudah ditangkap mata dan telinga. Terutama orang memakai kapal layar dengan kekuatan angin danau. Kapal ini tampak meliuk-liuk dinamis. Kadang layarnya benar-benar seperti akan rubuh menyentuh permukaan air, ternyata tidak. Lalu layar benar-benar jatuh ke arah kiri, ternyata bisa berdiri lagi.

Peristiwa ini mengingatkan kita dengan kapal Alinggi, kapal layar super cepat sebagai juara 1 di New Zealand, berasal dari Swiss. Luar biasa! Padahal Swiss tak punya laut, juara lomba kapal layar cepat dimenangkan kapal Swiss. Rupanya, tak punya laut, bukan menjadi penghalang. Kalau kutonton di ruas jembatan di Lucern dan Thun, banyak anak muda berselancar persis di bawah jembatan, karena arus derasnya kuat di sana.
Sekali lagi, bukan hanya fasilitas yang utama, tetapi sumber daya manusia yang terus ingin berkembang yang mendominasi. Meskipun Swiss tak punya laut, tetapi banyak kapal pesiar yang berpangkalan di Italia dan negara lain milik orang Swiss.
Kapal kelelahan, kini saatnya kembali ke Zürich lagi. Pelabuhan Bürkli Platz menjadi incaran terakhir. Sebelumnya penumpang masih disuguhkan air mancur di sebelah kiri dengan motif melengkung saling menabur air segar.
Sampai di sini, kelana dengan kapal di Zürich berakhir.[]














