• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 18 January 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Indonesia Tidak Punya Filsafat?

Alfin Falah by Alfin Falah
27 April 2021
in Esai
0
Indonesia Tidak Punya Filsafat?

https://unsplash.com/photos/zeH-ljawHtg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Setelah 4 tahun berkutat pada filsafat Barat, Timur dan Islam di bangku kuliah, lantas saya bertanya-tanya, apakah Indonesia benar-benar tidak memiliki pemikiran filsafat yang dilahirkan secara “mandiri” oleh pemikir-pemikir nasional setidaknya seperti di negara-negara Timur (Tiongkok, Jepang dan India)? Apakah tokoh-tokoh pemikir Indonesia menderita kemiskinan orisinalitas, atau hanya sekedar tak terekspos seluas-luasnya sehingga diakui oleh dunia? Pertanyaan itu yang coba saya cari belakangan ini dan coba saya uraikan pada tulisan singkat ini.

Filsafat merupakan suatu diskursus ilmu yang unik. Ia berdiri sendirian di belakang layar kontestasi ilmu-ilmu terapan seperti matematika, fisika, kimia hingga seni dan sastra. Lebih dari itu, filsafat bahkan disebut sebagai asal mula berbagai ilmu terapan. Keunikan-keunikan tersebut memantik saya untuk mencari lebih jauh filsafat yang asli lahir dari pemikir-pemikir Indonesia.

Definisi filsafat sejauh ini masih berputar dalam kesimpang-siuran. Setiap orang yang disebut sebagai filsuf di masa lampau memiliki definisinya masing-masing tentang filsafat. Phytagoras, misalnya, menjadi orang pertama yang menyebut istilah philoshopos (kecintaan pada kebijaksanaan). Istilah ini lalu digunakan Plato untuk menyebut gurunya, Socrates, yang telah menciptakan istilah sophos. Istilah sophos ini digunakan untuk menyebut pendidik atau orang bijak pada zaman Yunani kuno.

Ibnu Sina, seorang filsuf muslim mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang berupaya untuk mencari hakikat kebenaran. Di Barat, Thomas Hobbes, seorang filsuf Inggris mendefinisikan filsafat sebagai ilmu yang berupaya menjelaskan hubungan sebab dan akibat suatu perubahan.

Nah, dari berbagai definisi yang demikian beragam, apakah pemikir-pemikir di Indonesia dari masa Nusantara hingga sekarang tidak ada satupun yang masuk ke dalamnya? Jika hanya dibatasi pada orang-orang yang mencintai kebijaksanaan, tentu saja Indonesia punya jutaan tokoh yang berlaku demikian. Namun, apakah pertanyaan ini selesai begitu saja? Jawabannya: sayangnya tidak.

Pada tahun 1940, seorang cendekiawan Belanda, Dr. I. J. Brugmans menyatakan bahwa berbeda dengan India yang memiliki filsafat sendiri, Indonesia tidak memiliki filsafat yang orisinal. Pendapat ini lalu dikritik oleh seorang pakar sastra Jawa dan budayawan, Peter Josephus Zoetmulder.

Bagi Zoetmulder, filsafat dapat didefinisikan sebagai pencarian tentang hakikat wujud yang sifatnya mendalam dan mendasar. Definisi ini dapat ditemukan pada kebudayaan jawa, misal pada karya-karya sastra Jawa seperti Serat Centini, Serat Wirid Hidayat Jati, dan karya-karya lain atau hasil pemikiran yang diaplikasikan melalui cara orang-orang Jawa menjalani kehidupan sehari-hari.

Memang, perlu diakui bahwa pemikiran-pemikiran asli Jawa, misal, masih kurang tercatat secara sistematis seperti karya-karya filsafat yang ada di Barat. Pemikiran filsafat Jawa biasanya tertuang pada serat-serat, karya sastra atau cerita-cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Jika hanya karena demikian, lantas pantaskah produk-produk pemikiran kebijaksanaan  tersebut dikatakan sebagai filsafat yang tidak orisinal?

Di Barat dan di Timur, kita mengenal berbagai karya sastra yang dianggap sebagai karya yang filosofis. Filsafat Cina misal, banyak produk-produk filsafat yang hanya dihasilkan melalui lisan yang disebarluaskan oleh pengikut seorang filsuf dari mulut ke mulut. Dari Perancis kita mengenal Albert Camus dan Jean Paul Sartre yang menuangkan pemikiran-pemikiran filsafatnya melalui karya sastra. Jika orisinalitas filsafat di Indonesia dipersoalkan karena kurangnya sistematisasi pemikiran, maka rasa-rasanya kurang tepat menyebut pemikiran filsuf-filsuf Indonesia tidak orisinal.

Lebih jauh dari itu, mari kita melihat budaya filsafat Barat yang bercorak dialektik (saling bantah) sebagai pembanding. Agaknya di sinilah kita dapat menemui jalan keluar mengenai apakah Indonesia memiliki filsafat asli atau tidak. Mohammad Nasroen, dalam buku berjudul Falsafah Indonesia yang termasyhur, berpendapat bahwa filsafat di Indonesia memiliki corak yang jelas berbeda dengan filsafat Barat atau Timur. Corak unik yang dimiliki oleh filsafat di Indonesia adalah visinya yang anti terhadap dialektika perbedaan. Filsafat di Indonesia berusaha untuk tidak melihat perbedaan sebagai sekedar perbedaan. Filsafat Indonesia menelaah lebih jauh masalah perbedaan menjadi sebuah harmoni yang menyatukan.

Filsafat dialektika harmoni ini lantas menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia sekarang ini. Filsafat ini terealisasikan melalui kerukunan antar umat beragama, antar suku hingga golongan. Lima sila dalam Pancasila merupakan bentuk sistematisasi filsafat dialektika harmoni ala Indonesia.

Sumber:

  • Mengenal Filsafat Lebih Dekat Karya Dr. M. Taufik Mandailing
  • Filsafat [di] Indonesia: Pelangi Nusantara Karya Dr. A. Setyo Wibowo, SJ., dkk
Tags: filsafatfilsafat indonesiafilsafat jawaPancasila
ShareTweetSendShare
Previous Post

Anjing dan Kupu-kupu

Next Post

Selamat Bertugas Selamanya!

Alfin Falah

Alfin Falah

Tinggal di Timoho, Yogyakarta. Bisa disapa via Instagram @alfinfalah_f

Artikel Terkait

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
Esai

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025

Ada satu hal yang selalu membuat saya terdiam lama setiap kali mampir ke toko buku: harga buku yang makin hari...

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
Esai

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025

Penulis: Jean-Luc Raharimanana Penerjemah: Ari Bagus Panuntun   2002. Buku-buku dibakar di depan rumah ayahku. Adalah militer. Adalah milisi. Mereka...

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna
Esai

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025

Malam itu, saya belum ingin tidur cepat. Hingga lewat tengah malam dan hari berganti (Rabu, 23 Juli 2025) saya duduk...

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway
Esai

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025

Jika bulan Juni sudah kepunyaan Sapardi, Juli adalah milik Hemingway. Pasalnya, suara tangis bayi-Hemingway pecah di bulan yang sama (21...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Wartawan Ala Cak Rusdi

Wartawan Ala Cak Rusdi

30 April 2021
Perjalanan Wahyu Nirwaktu

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

11 January 2022
Serba-serbi Kali

Serba-serbi Kali

1 March 2021
Puisi yang Mengantarkan Kematian

Puisi yang Mengantarkan Kematian

25 February 2021
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Kebanyakan Fafifu

Kebanyakan Fafifu

3 May 2021
Menulis sebagai Aktivitas Produksi Pengetahuan

Menulis sebagai Aktivitas Produksi Pengetahuan

30 January 2021
Pekerja Malam

Pekerja Malam

28 April 2021
Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

Puasa dalam Pandangan Budaya Pop dan Gejala Pseudo-Spiritualisme

6 April 2022
Gambar Artikel El Diego di Luar Lapangan Hijau

El Diego di Luar Lapangan Hijau

30 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya
  • Mempersenjatai Trauma: Strategi Jahat Israel terhadap Palestina
  • Antony Loewenstein: “Mendekati Israel adalah Kesalahan yang Memalukan bagi Indonesia”
  • Gelembung-Gelembung
  • Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm
  • Di Balik Prokrastinasi: Naluri Purba Vs Tuntutan Zaman
  • Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar
  • Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (67)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (54)
  • Metafor (219)
    • Cerpen (56)
    • Puisi (142)
    • Resensi (20)
  • Milenial (51)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (15)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.