Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari mereka pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan.
“Besok mereka semua akan kembali, kan?” tanya Pak Hans.
“Aku tak tahu, sepertinya kau terlalu lunak terhadap mereka,” jawabku sambil melepas topi dan merebahkan punggung ke belakang sandaran kursi.
“Mereka itu orang-orang istimewa.”
“Ya. Tapi kalau mereka tidak menyelesaikannya, apa gunanya?”
Pak Hans duduk di kursi sebelahku yang sibuk mematikan peralatan rekaman. Sambil mengamati coretan-coretan yang kubuat sebagai panduan dalam merekam satu lagu ketujuh dari 10 lagu yang direncanakan. Ia berhenti di halaman ketujuh, tempat coretan konsep lagu yang hari ini digarap.
“Arkaik,” ucap Pak Hans, membaca judul lagu ketujuh ini.
“Mereka orang-orang aneh yang punya pikiran aneh. Aku tidak paham apa arti dari kata itu,” gerutuku.
“Sejak dulu mereka memang seperti itu, kan?”
“Iya, dan penjualan kasetnya tidak pernah sukses.”
“Hmm… Mungkin mereka punya pangsa pasar sendiri.”
“Tentu, pasar yang sangat kecil. Aku tidak yakin mereka akan terus bertahan digerus band pendatang baru yang lebih menjanjikan secara komersial dan musiknya tidak kalah bagus.”
Setelah setengah jam, aku membereskan perlengkapan rekaman. Pak Hans pamit pulang. Aku masih duduk di beranda studio rekaman sambil menyesap kopi yang kubeli dari kedai sebelah. Sambil kubuka group WhatsApp band “Hipotesis”. Kukirim pesan pendek:
“Besok jam 12 siang sudah siap di studio. Kita mulai jam 1 pas.”
Setelah menghabiskan kopiku, tepat pukul satu aku langsung pulang jalan kaki ke rumah kontrakanku yang hanya berjarak satu kilometer dari studio.
***
Keesokan harinya, ketika jam sudah menunjukkan pukul 13.00, hanya Rio, pemain gitar band ini, yang datang. Sembari menunggu yang lainnya, kusarankan Rio untuk mendengarkan lagi track drum, bass, dan piano yang sudah di-mixing dan berlatih bagaimana nanti melodi yang akan diisikannya.
Bagiku, Rio adalah anggota band yang paling mudah diajak berkompromi. Dia bisa menyesuaikan dengan apa yang diinginkan teman-teman bandnya, mau mendengarkan masukan dari Pak Hans selaku produser, dan juga paling mudah diajak berkomunikasi. Namun, sayang sekali, dalam band ini dia seperti tidak mempunyai kharisma sebesar Manson, bassis yang memang mempunyai banyak penggemar karena gayanya yang nyentrik dan sensasional di atas panggung.
Dia juga tenggelam oleh popularitas Fint, pianis yang mempunyai keterampilan komunikasi publik yang bagus. Dia pandai membuat jokes karena juga aktif dalam komunitas Stand Up Comedy. Permainan pianonya juga sangat bagus karena bisa memainkan nada-nada klasik yang dikemas secara modern.
Hanya saja, dari keempat orang itu, yang paling berpengaruh dari band ini adalah Jason, drummer yang serba bisa. Dia bisa memainkan hampir semua alat musik, kecuali alat musik tiup. Pengecualian itu lahir karena dia punya riwayat penyakit sesak napas. Dia memainkan drum di band ini hanya karena tidak ada yang bisa memainkan alat musik perkusi ini. Usianya pun dua tahun lebih tua dari semua anggota band sehingga ia lebih dihormati.
Untuk menyatukan personel band ini juga gampang-gampang susah. Keempatnya mempunyai genre musik yang berbeda-beda. Rio terpengaruh oleh musik-musik heavy metal seperti Helloween, Judas Priest, dan The Darkness. Tapi belakangan dia suka bereksplorasi dengan sound yang aneh-aneh karena terpengaruh oleh musik etnik dan mencoba membuat suara-suara gitarnya mendekati warna suara alat-alat musik etnik tersebut.
Manson secara gaya panggung terinspirasi oleh gaya funk Flea, bassis Red Hot Chili Peppers, namun dia memainkannya dengan sedikit sentuhan country. Dia sangat suka bereksplorasi sehingga kadang membuat permainan bassnya sangat ramai dan lincah. Tak ayal, permainannya sering membuat penonton berdecak kagum dan bertepuk tangan.
Fint mempunyai selera musik yang sangat luas, namun dasar belajar musiknya sejak awal adalah musik klasik. Dia sangat fasih memainkan gubahan Mozart, Beethoven, dan musik-musik Rusia kontemporer seperti Modest Petrovich Mussorgsky dan Sergei Prokofiev. Untuk notasi semua melodi dari teman-temannya, dia yang menuliskannya. Sepertinya dari keempat personel, dia yang paling rajin mendokumentasikan secara tertulis lagu-lagunya.
Jason mungkin adalah yang paling membingungkan. Dia mengaku tidak mempunyai aliran ataupun kecenderungan musik apa yang disuka. Ia melahap musik dari pop, rock, jazz, ska, reggae, punk, hingga musik-musik modern seperti EDM. Dia mempunyai keseimbangan antara kecepatan dan kekuatan. Dia selalu menemukan teknik dan kombinasi baru ketika memasuki studio.
Walaupun berasal dari SMA yang sama, mereka kuliah di universitas yang berbeda-beda. Rio di Universitas W mengambil jurusan Antropologi, Manson di Universitas X di Fakultas Filsafat, Fint di Universitas Y jurusan Matematika, dan Jason di Universitas Z jurusan Sastra Jerman.
Repotnya adalah keempatnya mempunyai kemampuan menulis dan menggubah lagu. Kontribusi mereka terhadap satu buah lagu bisa dibilang seimbang. Masing-masing 25%. Hal yang bisa menjadi nilai plus ini sering kali menjadi kesulitan tersendiri. Dalam menyelesaikan satu buah lagu akan terjadi sebuah kompromi yang sangat alot. Mereka berempat sering meributkan masalah musik ataupun lirik lagu. Di luar studio, mereka masing-masing seperti analis musik saat membicarakan musik mereka ataupun semua musik yang didengarnya. Walaupun tidak pernah terjadi pertengakaran dengan kata-kata kotor, kejengkelan mereka cukup tergambar dari raut muka dan gestur ketika mereka memainkan alat musik mereka.
Seperti yang terjadi tadi malam. Jason sangat lama mengisi part drumnya karena terus melakukan kesalahan dalam hitungan ketukan lagu. Take yang berulang-ulang membuat ketiga temannya jengkel. Kejengkelan lainnya adalah Jason berusaha mengubah ketukan drum di tengah lagu, dengan maksud memberi tekanan penegasan di beberapa jembatan, namun itu dianggap merusak feel yang sudah dibentuk oleh teman-temannya.
Fint yang paling lugas memberikan penilaiannya.
“Kau harusnya membiarkan part kosong di tengah itu dengan ketukan yang stabil, bukan malah memberikan hentakan,” tukas Fint sambil menggambar garis lurus imajiner di udara.
“Kedengarannya akan tampak kosong; itu malah membuat musik ini lempeng. Musik ini sudah dibuka dengan part yang monoton. Jika tidak kuberi itu, nanti terdengar membosankan.”
“Oke, oke. Tapi sebenarnya bisa kau isi dengan pukulan di floor tom, tapi juga dengan ketukan yang tidak sekeras itu. Hentakan itu bikin terkejut di tempat yang tidak tepat. Alih-alih enak, pendengar malah akan terganggu,” Manson menimpali.
Wajah Jason sudah menunjukkan ketidaksukaan terhadap pendapat tidak setuju Manson dan Fint. Dia mengacuhkan mereka dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Jason menghabiskan banyak waktu untuk melakukan take rekaman untuk lagu Arkaik ini. Waktu hanya tersisa setengah jam sebelum waktu yang disepakati datang, yaitu jam 12 malam. Rio yang mengisi melodi dengan waktu sesingkat itu jelas tidak mungkin menyelesaikannya malam tadi. Dengan wajah yang kusut juga ia mulai menyetel gitar dan peralatan efeknya.
“Ini terlalu singkat. Mustahil untuk menyelesaikan malam ini,” gumam Rio.
Ini artinya waktu penggarapan untuk satu lagu ini akan molor karena lagu ini juga belum diisi oleh vokal. Vokalis utama dari band ini adalah Fint, tapi karena lirik lagu ini lebih banyak ditulis oleh Jason dan Manson, dan isinya menurut Fint terlalu abstrak, dia tidak mau menyanyikan lagu ini. Ia menyerahkan kesempatannya kepada Rio.
Sebenarnya Rio sangat keberatan menyanyikan lagu ini. Melodi lagu ini sangat panjang dan cepat. Beberapa bagian lagunya juga mengandung melodi yang terus berjalan dan sangat sulit dilakukan berbarengan dengan mengatur napas saat bernyanyi. Rio menawarkannya kembali kepada Jason dan Manson sebagai penulis lagunya. Mereka berdua menolaknya karena nada lagu ini terlalu tinggi untuk mereka. Range nada tinggi pada band ini hanyalah dua pilihan: Fint atau Rio. Dengan berat hati, Rio menerimanya—walaupun ini kerja berat juga buat Rio yang harus menghafalkan lirik yang lumayan panjang.
***
Ketika Rio memulai take rekaman gitarnya, satu per satu personel lainnya datang. Manson dan Fint memilih langsung duduk di sofa belakang tempatku duduk, sedangkan Jason memilih duduk di kursi tunggal di sebelah kiriku sambil meregangkan badannya.
“Maaf terlambat,” ucap Jason sambil menyalamiku.
“Gapapa, baru saja dimulai kok. Pak Hans juga belum datang.”
Aku lihat Rio mengisyaratkan bahwa dia sudah siap untuk mulai merekam. Tanganku mulai menaikkan volume dan siap menekan tombol rekam.”
“Oke siap, satu… dua… tiga…” aba-abaku sambil menggerakkan jari agar terlihat dari dalam ruang rekam.
Rio memainkan melodinya yang sontak membuat tiga teman lainnya mengerutkan dahinya. Jujur saja, aku juga kaget dengan perubahan nada dan cara bermainnya secara drastis. Ada bagian yang masuk, tapi ada juga bagian yang berlebihan.
Setelah menyelesaikan semua part melodi dan keluar dari ruang rekam. Rio menyapa dengan ekspresi datar kepada semua personel yang baru datang, walaupun dengan tangan melambai.
“Kamu tidak sedang mabuk, kan, Rio?” tanya Manson sambil tersenyum kecut.
“Aku tidak minum hari ini.”
“Melodimu kacau. Kamu tidak memainkan seperti biasanya. Itu tadi versi baru, kan? Terus terang saja, mengganggu telinga.”
Rio diam saja sambil mengenakan headset untuk mendengarkan hasil dari rekaman ini tadi.
“Sepertinya kau butuh tidur lebih, Rio. Inspirasimu itu belum selesai. Kamu keburu bangun,” ujar Manson, mulai meledek sambil tertawa terbahak-bahak.
“Secara teknis sudah bagus, hanya saja kau mengubah permukaan dari keseluruhan lagu ini, Rio. Kau membuat lagu ini menjadi terang benderang, padahal konsep lagu ini kan gelap dan membingungkan,” imbuh Rio.
Rio seolah tidak mendengarkan argumen mereka dan memilih berkonsentrasi mendengarkan musik yang sudah direkam.
“Oke, tidak apa-apa, kita simpan dulu. Yok, sebelum take vokal Rio, kita perbaiki dulu line bass dari Manson dan part piano Fint. Aku memberi aba-aba agar saling ejek itu tidak menghabiskan waktu rekaman hari ini.
“Aku dukung,” Manson menyela ketika melihat Fint hendak bangkit dari tempat duduknya.
“Oke, silakan. Masih ingat kan bagianmu yang belum kemarin di lagu ini?”
“Ya, ya, ingatanku masih tajam,” ujar Manson, memasuki ruang rekam.
Tak sampai satu jam bagian Manson selesai. Di sini dia tidak terlalu banyak melakukan improvisasi. Permainan bassnya terbilang standar jika dibandingkan dengan lagu-lagu overthinking lainnya.
“Oke, aku selalu tepat waktu,” ujar Manson saat keluar dari pintu ruang rekam studio sambil menyindir teman-teman lainnya yang cenderung lama dalam menyelesaikan waktu rekaman.
Aku sudah merasakan sesuatu yang kembali tidak nyaman. Suasana seperti tadi malam perlahan terbangun lagi. Mereka semua tampak bermain sendiri-sendiri. Aku tidak bisa mendengarkan satu pun dialog yang tanpa nada emosional. Hal ini membuatku ingin segera malam ini selesai.
Sebelum Fint masuk untuk mengisi part piano karena kemarin bagiannya masih kurang, datanglah Pak Hans bersama istrinya yang membawakan konsumsi untukku dan keempat personel.
“Hai, bagaimana? Semuanya lancar?” tanya Pak Hans padaku sambil menyapukan pandangannya ke semua personel.
“Lancar, Pak. Kita targetkan untuk musik hari ini selesai, dan mencicil take vokal Rio sebagian dan dilanjutkan besok hingga selesai.”
“Okay-okay baguslah. Oh iya, hari ini aku tidak bisa menemani ya. Ini aku mengantar istriku untuk mengunjungi adiknya yang baru pindah rumah,” kata Pak Hans.
“Oke, Pak Hans, tidak masalah. Semuanya bisa aku tangani,” jawabku.
“Oke deh, aku tinggal dulu ya,” ucap Pak Hans sambil mengacungkan jempolnya sambil melihat ke semuanya yang dibalas dengan acungan jempol semua personel. Aku tidak turut mengacungkan jempol karena masih sibuk memegang kontrol mixer, sehingga kuganti dengan anggukan kepala saja.
Perlahan Pak Hans dan istrinya melangkah meninggalkan studio. Pak Hans tidak tahu kondisi yang sebenarnya terjadi malam ini, yang tak jauh berbeda dengan kemarin malam. Malah mungkin bisa jadi malam ini akan lebih parah, soalnya tidak ada Pak Hans yang bisa menengahi suasana di sini.
Saya sendiri tidak suka menunjukkan kemarahan, tapi sering kali terpengaruh secara emosional ketika mereka semua bertingkah bak anak kecil yang tidak mau mengalah dalam berpendapat.
Kini saatnya Fint mengisi part piano. Pada setengah jam pertama suasana masih kondusif. Namun, masalah baru keluar ketika Fint mulai memainkan bagian ending yang lumayan rumit. Bagian terakhir itu memang seperti sebuah paduan suara dari alat musik itu yang dimainkan bebarengan, namun setelah itu masing-masing berimprovisasi. Pengusul part ini adalah Fint sendiri, tapi pada akhirnya ketika semua memainkannya dengan mulus, Fint sendiri yang kesulitan memberikan harmoni setelah improvisasi karena akhir lagu ini dipercepat dan hanya menyisakan sedikit part untuk mengembalikannya ke chord dasar G#.
Serentak ketiga personel lainnya memberi kode jempol di balik ke bawah. Itu biasa mereka lakukan ketika satu personel melakukan kesalahan saat take. Tapi malam ini berbeda. Kode itu dikeluarkan pada saat suasana sudah memanas dan tidak kondusif. Tampak Fint tidak merespons apa pun dan sangat terlihat jengkel seolah diremehkan.
Setelah pengulangan yang ke-12, akhirnya bagian itu selesai. Walaupun Fint kurang puas dengan hasilnya, ia mau istirahat dulu karena sepertinya ia sudah kelelahan hari ini karena seharian dia belum istirahat. Kalaupun mau diubah mungkin besok saja.
“Kau payah sekali, kawan,” ucap Rio, yang juga membuatku kaget. Biasanya Rio jarang sekali berpendapat sinis seperti itu. Sangat-sangat jarang jika dibandingkan dengan ketiga teman lainnya.
Aku memahami Rio kecewa karena ini sudah menjelang larut malam, yang artinya kesempatan Rio untuk menyelesaikan rekamannya malam ini juga sama sedikitnya seperti tadi malam. Aku merasa Rio seperti dianak-tirikan sehingga ia pada akhirnya merasa jengkel dan berkata seperti itu.
“Hei, ucapanmu manis juga, anak kecil amatir!” balas Fint.
“Memangnya kau pemain profesional? Mengisi part sependek itu saja nggak becus!”
“Eh, sss…t! Cukup dulu, kawan-kawan. Kita dengarkan dulu bersama-sama hasilnya,” ujarku sambil sengaja berusaha mencairkan suasana.
Aku menyalakan speaker agar semua bisa mendengarkan tanpa menggunakan headset. Semuanya tampak mendengarkan dengan serius. Manson sambil meluhat ke bawah, meletakkan dagunya di ujung kedua telapak tangan sambil mengikuti ketukan, Fint menyangga kepalanya dengan tangan yang disandarkan di sebelah kanan mejaku, Rio berdiri sambil duduk di meja sebelah kiriku, sedangkan Jason mendengarkan sambil tiduran di sofa.
“Naah kurang lebihnya seperti itulah. Oke, aku kira musik sudah cukup. Besok kita tinggal mengisi vokal dan masternya segera saya kirim ke Pak Hans agar dapat masukan lagi apa yang harus diperbaiki. Untuk sekarang kita istirahat dulu saja sambil makan bersama”
Aku mengajak mereka membuka makanan yang diberikan Pak Hans Tadi, tapi Manson, Jason, dan Fint ingin segera meninggalkan studio karena ada dengan alasan masing-masing yang aku malas mengingatnya. Mereka segera bergegas dan membawa makanan mereka pulang. Hanya aku dan Rio yang makan bersama di studio malam itu.
“Rio, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucapku sambil makan
“Apa?”
“Sepertinya project kita tidak bisa dilanjutkan lagi,”
“Hmm… sudah kuduga. Kita susah kompak, kan?”
“Lebih tepatnya, Pak Hans, dia bilang butuh kecepatan untuk efisiensi,”
“Oke, aku paham,” sahut Rio pelan.
“Tapi menurutku sayang sekali. Kita sudah seperti saudara sendiri dan berproses lama.”
“Tak apa… Ini mungkin juga hari terakhir aku ke sini. Terima kasih atas semuanya. Mulai besok aku tidak ke sini lagi. Salam buat Pak Hans dan teman-teman, ya,” ucap Rio sambil menyalamiku dan memelukku.
Rio segera berjalan ke pintu keluar menuju parkiran. Hening malam membuat langkahnya begitu terdengar dari dalam studio. Suara motornya yang berat yang perlahan menghilang ditelan malam seolah menjadi salam terakhir yang mengiang di telinga sebelum aku juga memutuskan untuk terakhir kalinya mengunci gerbang dan melihat dari luar studio yang sudah delapan tahun memberiku penghidupan.[]














